Tokoh OPM di Belanda kembali menetap di RI PDF Afdrukken E-mailadres
Geschreven door Rahmayulis Saleh for Bisnis Indonesia   
dinsdag 12 januari 2010 01:00

JAKARTA bisnis.com): Tokoh pergerakan Organisasi Papua Merdeka (OPM) Nicolaas Jouwe, yang selama 40 tahun bermukim di Belanda, sekarang memutuskan untuk menetap di Indonesia.

"Kali ini saya akan meninggalkan Belanda dan pulang ke Tanah Air Indonesia untuk selama-lamanya," katanya hari ini seusai bertemu dengan Menko Kesra Agung Laksono.

Dia mengajak seluruh rakyat Papua untuk membangun tanah Papua bersama rakyat Indonesia lainnya. "Papua merupakan daerah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari Tanah Air Indonesia, yang wilayahnya dari Sabang hingga Merauke," kata Nicolaas, 85, yang didampingi Menhub Fredy Numberi.

Dia mengatakan suara-suara yang dilontarkan oleh mereka yang masih mengaku sebagai anggota OPM, adalah omong kosong belaka. "Itu hanya suara anak-anak muda yang sebenarnya tidak tahu apa-apa. Mereka hanya bisa berteriak, OPM, OPM merdeka…, padahal tidak tahu apa-apa," ungkapnya.

Menurut Nicolaas, yang terjadi di Papua adalah masalah perut. "Untuk itu saya senang pemerintah Indonesia tak henti-hentinya membangun Tanah Papua demi kesejahteraan rakyatnya. Kita ini satu bangsa, dan satu negara Indonesia, yang berwilayah dari Sabang hingga Merauke."

Menko Kesra Agung mengatakan setelah berdiskusi dengan Nicolaas, dan yang bersangkutan telah bertekad untuk bersama-sama rakyat membangun daerah yang dulu bernama Irian Jaya atau Irian Barat tersebut, sebagai bagian mutlak dan tidak terpisahkan dari Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Kami bersama Menhub mengajak masyarakat Papua membangun kembali Papua kedepan. Kita merupakan satu kesatuan dari Sabang sampai Merauke berpijak pada demokratisasi dan keadilan," kata Agung.

Agung menegaskan tidak ada yang pemerintah janjikan pada tokoh OPM ini. Pemerintah hanya ingin Papua menjadi bagian integral, menjadi satu bangsa. Semakin kokoh dengan kesatuan Indonesia.

Menhub Freddy Numberi, sebagai anak kelahiran Papua, mengatakan seperti halnya dengan persoalan di belahan dunia lainnya, yang terjadi di Papua juga masalah perut.

"Terima kasih di bawah pimpinan Presiden SBY, tokoh ini [Nicolaas] bisa kembali ke Tanah Air setelah lama tinggal di Belanda. Intinya orang-orang yang mengaku OPM tersebut tidak puas dengan ekonomi. Yang penting kita pikirkan bagaimana membangun Papua," katanya.

Indonesia juga telah memberikan dana sebesar Rp22 triliun untuk membangun Papua. "Papua harus sejahtera. Pemerintah Pusat harus memikirkan bagaimana men-drive pembangunan di Papua lebih baik lagi, hampir semua bupati dan gubernur orang Papua," ujar Freddy. (tw)